Senin, 26 Desember 2011

FONETIK DAN FONEMIK (LINGUISTIK LANJUT)


                    Marista Dwi Rahmayantis


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
PROGRAM PASCASARJANA
PRODI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
September 2011


I.    FONETIK
1.1     Ilmu Bunyi dan Fungsinya
Pengguna dan peneliti  bahasa perlu mengetahui ilmu bunyi dan pemakaiannya, karena bahasa pertama-tama bersifat bunyi. Pengetahuan tentang ilmu bunyi disebut fonetik. Fonetik pada dasarnya adalah studi tentang bunyi-bunyi ujar (Samsuri, 1990:91). Seseorang yang sudah memahami ilmu bunyi akan mempunyai pengetahuan dan kemahiran dalam menganalisis maupun menghasilkan tiap bunyi bahasa, karena ia memahami tentang struktur dan fungsi peralatan ujar.

1.2     Pembentukan bunyi-bunyi ujar
Di dalam tubuh manusia, udara dihasilkan oleh paru-paru yang diatur oleh gerakan-gerakan teratur dari sekat rongga dada. Pertama-tama, udara dari paru-paru mengalir ke atas melalui ruang-ruang laring dan faring. Ruang-ruang yang dilalui arus udara tersebut dapat diubah-ubah bentuknya sebelum menuju ke depan dan keluar melalui mulut atau hidung atau bahkan keduanya. Dengan “permainan” udara ini, bila udara bisa mengalir dari paru-paru sampai ke lubang hidung atau bibir, maka akan kita hasilkan hampir semua bunyi ujar manusia.
Berikut ini adalah penggolongan artikulasi berdasarkan ada atau tidaknya udara yang keluar dari paru-paru.
1.2.1   Vokoid
          Vokoid adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan jika secara relatif tidak ada hambatan atau tintangan antara paru-paru dan udara keluar. Penggolongan Vokoid dapat didasarkan pada tiga hal, yaitu:
1.2.1.1  Penggolongan Berdasarkan Gerakan Lidah atau Artikulator
a.         Vokoid Depan adalah vokoid yang dihasilkan dengan mengangkat bagian depan lidah dalam berbagai tingkatan mendekati langit-langit keras.
b.         Vokoid Pusat adalah dihasilkan oleh bagian tengah lidah dengan mendekati bagian mendekati bagian tengah langit-langit mulut (antara langit-langit keras dan velum).
c.         Vokoid Belakang adalah vokoid yang dihasilkan mendekati langit-langit lunak
1.2.1.2  Vokoid Berdasarkan Posisi Lidah (Tinggi Rendahnya Lidah)
Vokoid ini dibagi menjadi vokoid atas-bawah, tengah-atas, tengah, tengah-bawah, bawah-atas, bawah.
1.2.1.3  Vokoid Berdasarkan Pembulatan Bibir
Vokoid ini dibagi menjadi bulat dan tambulat
Bila ketiga penggolongan itu digabungkan kita dapat memperoleh 42 macam vokoid.
DEPAN
PUSAT
BELAKANG
TBL/T
BL/T
TBL/T
BL/T
TBL/T
BL/T
i
ü-y




I
Ü




e
ö-ø




E




ɛ





æ





a







ATAS
ATAS-BAWAH
TENGAH-ATAS
TENGAH
TENGAH-BAWAH
BAWAH-ATAS
BAWAH


1.2.2   Kontoid
Kontoid adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan jika terdapat hambatan atau rintangan antara paru-paru dan udara luar. Penggolongan kontoid adalah sebagai berikut,
1.2.2.1  Penggolongan Kontoid Berdasarkan Udara yang Keluar dari Paru-Paru
Kontoid dibagi lagi dalam penggolongan  sebagai berikut.
a)         Hambat, jika terdapat hambatan menyeluruh pada salah satu tempat antara paru-paru dan udara luar sehingga jalan arus udara tertutup. Bunyi ini dihasilkan pada pengucapan [p], [t], [k], [b], [d], dan [g].
b)        Nasal, jika jalan arus udara di mulut dimungkinkan seperti (a), tetapi dengan membuka jalan ke rongga hidung. Bunyi ini dihasilkan pada pengucapan [m] dan [n].
c)         Spiran, jika jalan arus udara mungkin dihalangi pada salah satu tempat sehingga hanya merupakan sebuah lubang kecil yang berbentuk sebagai lembah panjang atau hanya sebagai celah yang dilalui oleh udara. Bunyi-bunyi yang dihasilkan pada pengucapan [f], dan [s].
d)        Lateral, jika garis tengah jalan di mulut mungkin terhambat, tetapi sebuah lubang mungkin tinggal sepanjang sebelah atau kedua belah sisi yang dilalui arus udara. Bunyi ini dihasilkan pada pengucapan [l].
e)         Getar, jika arus udara menyebabkan sebuah alat yang elastis bergetar dengan cepat. Bunyi ini dihasilkan pada pengucapan [r].

1.2.2.1  Penggolongan Kontoid Dilihat dari Cara Pengucapannya
Dilihat dari cara pengucapannya, kontoid dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu yang mendapat hambatan menyeluruh dan terbuka. Kontoid yang terbuka dibedakan menjadi geser, nasal, lateral, dan getar. Dilihat dari titik-titik pengucapan, kontoid dibedakan menjadi bibir (labial), gigi (dental), langit-langit (patal), dan langit-langit lunak (velar), dan selaput suara (glotal).
Dengan mengombinasikan kedua dasar pembagian itu, maka terdapat penggolongan dasar seperti denah kontoid di bawah ini.

Labial
Dental
Palatal
Velar
Glotal
Hambat

p
b
t
d
c
j
k
g

Geser
f
v
s
z
s
z
x
y
h
l
Nasal
m
n
ñ
Ŋ

Lateral

l

l

Getar

r

r




1.3  Alat-alat ucap
Secara sederhana, alat ucap dibagi menjadi dua, yaitu (1) artikulator dan (2) titik-titik artikulasi. Artikulator adalah alat-alat yang dapat digerakkan dengan bebas sehingga dapat menempati berbagai macam posisi. Titik-titik artikulasi yaitu titik atau daerah tertentu yang terletak di atas artikulator-artikulator, yang dapat disentuh atau didekati.
Ujung lidah merupakan artikulator, yang dapat digerakkan ke atas, ke bawah, ke depan atau ke belakang, sedangkan gigi depan atas merupakan titik artikulasi karena ujung lidah dapat menyentuh atau mendekatinya. Berikut ini akan diulas tiap-tiap artikulator dan gerakan-gerakan serta posisi titik-titik artikulasi.

1.3.1        Bibir bawah
Bunyi-bunyi yang dibentuk oleh bibir bawah disebut “Labial”. Jika bibir bawah menyentuh bibir atas, bunyi-bunyi itu disebut “Bilabial”, sedangkan bila bibir bawah menyentuh gigi atas, bunyi-bunyi itu disebut “Labiodental”. Jika digabungkan dengan konsep pembentukan bunyi-bunyi ujar, dapat dicontohkan bahwa [p] dan [b] adalah “Hambat Bilabial”, [f] dan [v] adalah “Spiran Labiodental”, sedangkan [u] adalah vokoid dengan modifikasi “Labial”.

1.3.2        Lidah
Ujung lidah atau Apex,adalah salah satu artikulator yang lebih lentur. Ujung lidah dapat ditegakkan pada tepi bibi atas untuk membentuk hambatan yang menyeluruh pada pengucapan [d], atau pada sisi gigi atas seperti pengucapan [t]. Bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh ujung lidah disebut apikal.

1.3.3        Bagian depan lidah
Bagian yang lebar daripada lidah dibagi menjadi dua. Bagian yang terletak di belakang ujung lidah disebut bagian depan.Bagian ini biasanya menghasilkan bunyi pada langit-langit keras, seperti pada pengucapan [ny] pada nyanyi atau nyinyir. Konsonan-konsonan yang dihasilkan dengan bagian lidah depan disebut frontal, atau biasa disebut palatal. Salah satu fungsi penting dari bagian depan lidah adalah untuk mengubah bentuk rongga mulut di dalam pembentukan vokoid. Jika kita mengucap kata apa, ini, itu, kita akan mendapatkan bahwa bagian depan lidah terangkat berturut-turut lebih dekat ke langit-langit keras.

1.3.4        Bagian belakang lidah
Bagian belakang disebut dorsum, adalah bagian yang memanjang kira-kira empat sentimeter dari apex samapi belakang mulut. Bagian atas mulut yang terletak di atas dorsum bila mulut tertutup adalah langit-langit lunak atau velum. Dorsum dapat membentuk penghambatan pada suatu bagian dari langit-langit lunak, seperti pada pengucapan [k] dalam kaku, atau [g] dalam gagu.

II.       FONEMIK
2.1     Definisi
Wahab (1990, 13) menyatakan bahwa, fonemik adalah sub cabang linguistik yang menyelidiki bagaimana bunyi-bunyi bahasa dapat membedakan arti. Pike (dalam Wahab, 1990) menyatakan bahwa, fonemik memberikan teknik untuk memroses data fonetik yang masih kasar untuk memeroleh kesatuan bunyi yang signifikan dan kemudian melambangkannya ke dalam suatu alfabet yang mudah dibaca oleh penuturnya. Karena itu, menurut Pike, tujuan praktis fonemik ialah memroyeksikan bahasa ke dalam sistem tulisan.

2.2     Premis-premis
Menurut Pike (dalam Wahab, 1990) prosedur fonemik itu harus dilandasi oleh premis-premis yang berkaitan dengan ciri universal yang mendasari bahasa-bahasa di dunia ini walaupun konklusi yang diperoleh dari prosedur itu ternyata secara teknik dan praktik kurang memadai.
Sebagai akibat dari keyakinan bahwa prosedur fonemik itu harus dilandasi oleh premis-premis yang bertalian dengan ciri universal bahasa yang ada di bumi ini, maka fonemik model Pike itu mengusulkan empat premis pokok yang akan mewarnai teknik yang akan dipergunakan dalam bidang fonologi model aliran ini.
1)   Premis Pertama
Premis pertama mengatakan bahwa ada kecenderungan bunyi itu diubah oleh lingkungannya. Asalnya, suara nasal pada bunyi akhir awalan meN(asal) dapat berubah-ubah, bergantung pada bunyi awal kata yang diberi awalan itu. Misalnya, bunyi nasal itu bisa menjadi bilabial, jika bunyi berikutnya juga bilabial. Jadi, meN(asal) + bagi=membagi. Ia akan menjadi alveolar, jika bunyi berikutnya alveolar. Jadi, meN(asal)+dorong=mendorong.
2)   Premis Kedua
Premis kedua mengatakan bahwa sistem bunyi itu mempunyai tendensi kesimetrikan fonetik. Berdasarkan premis ini diutarakan bahwa apabila pada bahasa tertentu ditemukan fonem /p/, /k/, /b/, dan /d/, dalam analisis fonologis, maka patut dicurigai bahwa bahasa itu mungkin mempunyai fonem /g/. Begitu juga, jika dalam suatu analisis fonologis suatu bahasa, analisis menemukan fonem-fonem /p/, /k/, /b/, /d/, dan /g/, maka prinsip simetri akan meramalkan adanya fonem /t/ dalam bahasa itu.
3)   Premis Ketiga
Premis ketiga mengatakan bahwa bunyi itu cenderung untuk naik turun. Premis ini oleh Pike dan pengikut-pengikutnya didasarkan pada sifat kemampuan organ tutur manusia yang terbatas sehingga organ-organ tutur itu tidak dapat mengulangi ucapan yang tepat sama, jika terhitung secara matematis akustis kebenaran premis ketiga ini dapat diuji pada suatu alat pengukur bunyi yang dinamakan spectograph.
4)   Premis Keempat
Premis keempat dan terakhir yang diusulkan oleh fonemik ialah: serangkaian khas bunyi-bunyi dalam suatu bahasa memberikan tekanan struktural pada interpretasi serentetan segmen yang dicurigai. Misalnya, serentetan bunyi u dan e  dapat dianggap sebagai diftong ue atau semivokal w. Contoh lain, serentetan bunyi i dan e dapat ditafsirkan sebagai ie atau konsonan y.

2.3  Analisis Fonemik
Untuk memperoleh analisis fonemik dari suatu bahasa, penerapan keempat premis pokok tersebut dilengkapi dengan prosedur yang diusulkan, yaitu: merekam data, mengasumsikan bahwa data yang direkam dan akan dianalisis itu sudah lengkap dan tepat, membuat daftar pasangan bunyi yang dicurigai, akhirnya membuat deskripsi semua bunyi yang ada.
Pasangan bunyi yang dicurigai
/p/        dan      /b/
/t/                     /d/
/k/                    /g/
/i/                     /I/
/e/                    /E/
/o/                    /O/
/n/                    /m/ dan /ɳ/
/a/                    /O/
Dengan premis dan prosedur yang dimiliki itu fonemik hanya mampu mendeskripsikan fonem yang ada yang dimiliki oleh bahasa tertentu terhadap data yang tersedia. Itu pun terbatas pada representasi fonetik yang dapat dianalogikan dengan struktur akhir dalam bidang sintaksis.
            Pada bidang fonemik, bunyi-bunyi yang telah dideskripsikan tersebut lalu dianalisis berdasarkan konteks tertentu pada suku kata maupun pada kata sehingga dapat membedakan arti secara jelas. Untuk mengetahui perbedaan masing-masing bunyi bahasa yang dituliskan ke dalam simbol/lambang tersebut harus dibandingkan dengan simbol-simbol yang lain. Perbandingan ini pada suku kata atau pada kata. Pendeskripsian bunyi-bunyi yang dapat membedakan arti disebut transkripsi fonemis pada masing-masing simbol baik fonem, suku kata, maupun kata yang dibatasi tanda /.../, misalnya fonem /r/ berbeda dengan /t/ setelah dipasangkan pada pasangan minimal berupa kata /hari/ dan /hati/.
            Kajian fonemik ini merupakan kelanjutan dari kajian fonetik, sebab data-data yang dibutuhkan berasal dari data yang masih mentah yang belum berfungsi. Data mentah ini dikumpulkan berkat ada kajian fonetik, sehingga semua bunyi bahasa bisa dibedakan dengan bunyi-bunyi nonbahasa. Di dalam kajian fonemik perlu diperhatikan bahwa satu fonem hendaknya dapat membedakan dengan fonem yang lain. Cara yang termudah untuk mengetahui perbedaan fonem yang dimaksud adalah melalui pasangan minimal. Pasangan ini sengaja disusun dengan tujuan memilah antara fonem yang satu dengan fonem yang lain dalam satuan lingual yang lebih kompleks, misalnya:
kapas              dengan                        kapan
panggang         dengan            panggung
tumpuk            dengan                        tumpul
gelar                dengan                        gelas
curi                  dengan                        juri
            Di antara pasangan minimal tersebut dapat kita ketahui daya pembedanya. Setiap fonem yang diperkirakan sama malah mampu mengubah arti pada struktur fonem dalam kata lainnya. Ternyata fonem /s/ - /n/, /a/ - /u/, /k/ - /l/, /r/ - /s/, /c/ - /j/ masing-masing mampu mengubah makna sebuah kata. Cara semacam ini dalam fonemik tidak ragu dalam mengatakan satu bunyi satu arti.

2.4     Prosodi
Bunyi-bunyi bahasa dapat dikatakan berdiri sendiri. Namun, bunyi-bunyi bahasa di dalam ujaran lebih dari sekedar urutan kontoid dan vokoid saja. Variasi bunyi-bunyi itu masih dapat dilihat dari panjangnya, keras atau nyaringnya, tinggi rendahnya, yang merupakan bagian dari ujar dan pada bahasa-bahasa tertentu hal itu sama pentingnya dengan bunyi-bunyi segmen itu sendiri. Variasi itu merupakan ciri-ciri prosodi tentang (1) kuantitas atau panjangnya, (2) tekanan atau keras nyaringnya, dan (3) nada atau tinggi rendahnya. Tekanan dan nada dapat digolongkan sebagai aksen.
1)   Kuantitas
Panjang pendek bunyi mudah diperkirakan karena bias diukur dengan waktu atau kesan yang didasarkan pada waktu. Bunyi bahasa bisa terdengar relative sangat panjang, panjang, atau biasa.
2)   Aksen
Di dalam ucapan-ucapan seseorang, tingkatan keras dan tinggi rendahnya suara tergantung pada tujuan tertentu yang kita miliki. Dalam bahasa Indonesia, misalnya dalam pengucapan kata tamu, tidak akan ada perbedaan pengertian jika kita mengucapkannya dengan tekananatau nada yang berbeda pada suka kata pertama ataupun kedua. Namun, pada bahasa-bahasa lain, tekanan dan nada kadang mempengaruhi perngertian atau maknanya. Misalnya saja pada bahasa Cina, kata ma dengan nada naik akan berbeda pengertiannya dengan ma dengan nada turun atau datar.
Untuk membedakan nada, kita bisa menggunakan tanda [] untuk nada naik, [    ] untuk nada turun, [-] untuk nada datar, [v] untuk nada turun-naik, dan [^] untuk nada naik turun.


III.    KESIMPULAN
Berdasarkan keseluruhan ulasan di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang perbedaan fonetik dan fonemik, sepeti yang dijelaskan dalam tabel berikut ini.

Pembeda Fonetik dan Fonemik
FONETIK
FONEMIK
·         Bunyi-bunyi bahasa yang dikumpulkan disebut fon
·         Bunyi-bunyi bahasa yang dikumpulkan disebut fonem
·         Penulisannya dibatasi tanda [...]
·         Penulisannya dibatasi tanda /.../
·         Jenis fon yang dihasilkan diistilahkan vokoid dan kontoid
·         Jenis fon yang dihasilkan diistilahkan vokal dan konsonan
·       Berfungsi untuk mendapatkan deskripsi bunyi-bunyi bahasa yang nondistingtif
·       Berfungsi untuk mendapatkan deskripsi bunyi-bunyi bahasa yang distingtif (bararti)


Daftar Rujukan
Samsuri. 1990.  Analisis Bahasa. Jakarta: PT Erlangga.
Wahab, Abdul. 1990. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Airlangga University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar